Pernikahan Dibawah Umur

Posted by Situs Cari Jodoh Terbesar on Selasa, 13 November 2012

Pernikahan Dibawah Umur
Pernikahan di Bawah Umur - Jika ada hal terkait pernikahan yang mengalahkan hebohnya kasus drama perceraian artis Ahmad Dhani dan Maia Estianty serta Dewi Persik dan Saiful Jamil, maka itu tak lain adalah pernikahan Syekh Puji dengan Lutfiana Ulfa yang akrab dipanggil Ulfa. Syekh pemilik pondok pesantren Mifta-hul Jannah Semarang dan pe-ngusaha ukiran logam kuningan beromzet ratusan milyar rupiah itu tiba-tiba menjadi sangat terkenal. Kelakuannya menikahi Ulfa yang berumur 12 tahun membuat seisi negeri seperti kebakaran jenggot.

Syekh Puji tak hanya dinilai melanggar kepatutan norma so-sial dengan mengawini gadis di bawah umur, tapi dia juga di-anggap sebagai perampas

hak anak dan perempuan. Dia juga dianggap pelanggar bagi undang-undang negara tentang perkawinan tahun 1974 yang ditanda-tangani langsung oleh

Presiden Rl waktu itu, Soeharto, dan Menteri Sekretaris Negara, Su-dharmono SH, yang masih berlaku sampai sekarang. Umur Ulfa yang baru 12

tahun, telah melanggar syarat perkawinan menurut undang-undang tersebut . yang menetapkan angka 16 tahun sebagai usia minimal bagi seorang

wanita untuk menikah.

Batas, Agama, Negara

Pasal 7, ayat 1, UU perkawinan tahun 1974 yang terma-s jk dalam bab Syarat-Syarat Perkawinan memang dengan gamblang mengemukakan syarat umur

tersebut. Perkawinan ha--ya dizinkan jika pihak pria sues si 5 / I / Desember 2008
dah mencapai umur 19 (sembi-lan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun. Ketentuan ini diambil sebagai garis

standar atas simpang siurnya adat perkawinan di berbagai daerah ber-kenaan dengan batasan usia menikah tersebut.

Namun pasal ini tak berlaku secara mutlak, karena negara juga mengakomodir keadaan-keadaan khusus dimana keten-
tuan ini kemungkinan sulit di-terapkan. Pada ayat berikutnya disebutkan bahwa siapa saja da-pat meminta dispensasi jika ketentuan umur tersebut

me-nyimpang (atau tak bisa dipe-nuhi. Red) kepada lembaga pe-ngadilan atau pejabat terkait.

Sebenarnya sejak diberla-kukan, tren pernikahan di Indonesia sudah berada di atas usia tersebut. Ini diutarakan oleh M Yahya Harahap SH,

seorang hakim tinggi pada Pengadilan Tinggi di Medan Sumatera Utara yang juga pengajar di Fakultas Hukum dan llmu Kemasyaraka-tan Universitas

Islam Sumatera Utara, Medan. Keterangan yang ia bukukan dalam Hukum Per-kawinan Nasional, yang terbit setahun setelah UU perkawinan disahkan,

menyebutkan kondisi masyarakat cenderung mulai ja-rang mempraktekkan pernikahan usia dim", karena semakin majunya masyarakat dan mobi-litas

penduduk dari satu daerah ke daerah lain sudah demikian tinggi.

Beberapa kasus pernikahan dibawah umur umumnya hanya terjadi di daerah-daerah pelosok. Di kota, kasus menikah dibawah umur sudah menjadi hal

yang tak populer dan terus me-ningkat standar usianya seiring dengan makin tingginya tingkat pendidikan masyarakat.

Sebagai standar, angka 16 tahun bagi wanita, bukan tanpa kritik. Saat menjabat sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan, Khofifah Indar

Parawansa, pada tahun 2001 pernah mengusulkan kenaikan usia minimal nikah dalam UU Perkawinan, dari 16 tahun menjadi 20 tahun untuk wanita.

Sebagaimana di-beritakan Gatra, Khofifah wak-tu itu merujuk pada hasil riset bahwa potensi kematian ibu yang melahirkan di usia 18-19 tahun

mencapai lima kali lipat.

Usulan sebaliknya diutarakan Hakim Agung yang juga profesor hukum Islam, Ahmad Sukardja. Dia malah mengusul-
kan batas usia menikah diturun-kan mengingat semakin bebas-nya pergaulan di kalangan anak muda. Dorongan seks semakin menonjol dan lebih cepat

di-banding orang pada generasi sebelumnya. Semakin tinggi ba-tasan umur pernikahan akan semakin memunculkan resiko ter-jadinya seks di luar

nikah.

Pembicaraan mengenai batas usia menikah di Indonesia memang tidaklah sederhana. Kisarannya berada dalam kebo-lehan hukum dan kemashalaha-tan.

Fikih Islam menyebut usia baligh sebagai syarat menikah yang bisa membuat seorang anak yang sudah menstruasi menjadi pengantin. Tapi juga ada

aspek mashlahat yang harus dilihat, karena pernikahan me-rupakan ibadah mulia yang me-merlukan kematangan agar tak menjadi madharat dan

mengha-silkan sesuatu yang tak baik.

Dalam literatur fikih, haid dan hamil merupakan bukti kebalighan seorang wanita. Kedudukan haid di sini disamakan dengan kondisi mimpi basah

pada laki-laki sebagai bukti bahwa dia telah baligh. Sementara itu Imam Syafii, Malik dan Hanafi, menyebutkan tumbuhnya bulu ketiak sebagai

tanda baligh. Ikhtilaf terjadi pada saat menyebut usia baligh tersebut. Menurut Imam Syafii dan Han-bali usia baligh adalah pada 15 tahun,

Maliki 17 tahun, dan Hanafi, 18 tahun laki-laki dan 17 tahun bagi perempuan. Khusus bagi Hanafi, usia yang disebut-kan ini adalah usia

maksimal, karena ia juga berpendapat pada usia 9 tahun bagi perempuan dan 12 tahun bagi laki-laki adalah usia baligh, karena pada usia tu

laki-laki sudah dapat menge-iuarkan sperma dan perempuan ada yang sudah haid.

Ketua MUI Bidang Fatwa, KH m'aruf Amin, cenderung melihat kasus ini dengan hati-hati. masalah batas usia menikah megandung sengketa hukum yang

tak ringan. Menurutnya, hukum asal mengawini anak di bawah umur tidaklah dilarang. Tapi kita ;jga menghadapi perkembangan di mana muncul

undang-undang negara yang memberi batasan usia minimal, yakni 16 tahun tadi.

Menurut Ma'ruf Amin, diDerlukan kerangka argumen memadai guna menjembatani kaidah fikih yang dikaitkan dengan hukum negara.

"Surat An-Nisa ayat 59 menyebut, 'Taatlah kalian pada Allahah, taatlah kalian pada Rasul dan pemerintah,' artinya bila ada regulasi negara yang

diputuskan dan dimaksudkan untuk melindungi kemaslahatan umum, Islam mewajibkan umat untuk patuh," ujarnya


-->

Blog, Updated at: 10.11.00

0 komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini

Entri Populer