Ads 468x60px

.

Rabu, 08 Mei 2013

Cari Jodoh Islami

Cari Jodoh Islami
Cari jodoh islami di kontak jodoh islam, biro jodoh islami untuk mencari jodoh muslim. sobat Mencari Jodoh.org dalam hal pernikahan Islam dengan tegas menggarisbawahi, bahwa perceraian adalah sesuatu yang halal. Kendati halal -sebagaimana disabdakan oleh nabi- ternyata Allah mem-bencinya. Tapi kenapa sesuatu yang "mengundang kebencian" Allah itu —di zaman sekarang ini— seperti mudah dan gampang terjadi, apalagi di kalangan artis dan selebritis seakan-akan perceraian dianggap sebagai langkah dan solusi terbaik untuk mengakhiri konflik dalam kehidupan berumah tangga?

Mungkin tak lagi menjadi sebuah rahasia umum, terutama di kalangan artis, jika perceraian sudah seperti mainan. Padahal, saat dulu digelar upacara pernikahan, "ikrar akad nikah" yang digelar dengan meriah dan calon suami dan istri mengucapkan janji suci untuk sehidup semati terlihat khidmat dan sakral. Tetapi di kemudian hari, ikatan suci itu anehnya mudah dirusak dan dikhianati.

Ironisnya lagi, "perceraian" yang sebenarnya merupakan sesuatu yang dibenci Allah, dan sepatutnya menjadikan artis di-rundung malu, justru diumbar besar-besaran ke hadapan publik. Bahkan ada artis yang bangga dengan perceraian itu. Selepas sidang, dengan enteng dan tanpa beban, si artis me-nunjukkan perasaan senang di hadapan wartawan, padahal ucapan itu didengar banyak pemirsa dalam tayangan infotainment.

Setelah mencari jodoh sebuah akad pernikahan, dalam ajaran agama Islam (juga ajaran agama-agama lain) sedari awal dibangun sebagai ikatan langgeng dan suci yang harus dipertahan-kan dan dipegang dengan teguh, yang hanya dipisahkan oleh berakhirnya hidup dari salah satu pasangan (suami istri). Karena itu, bangunan "rumah tangga yang damai, sejahtera dan harmonis" adalah tujuan utama yang sejak awal didambakan, dan senantiasi dipeli-hara dan selalu diupayakan untuk terwujud.

Memang, untuk membangun pernikahan itu bisa bahagia, penuh tabur cahaya dan bunga-bunga sakinah (ketentraman), mawaddah (cinta), rahmah (kasih sayang) tidak disangsikan lagi dibutuhkan kerjasama dan sikap saling tolong menolong antara suami dan istri. Sepasang suami-istri itu, dalam ajaran Islam bahkan diibaratkan seperti pakaian yang saling melengkapi dan menutupi. Tak salah, jika aib dalam rumah tangga harus dijaga dengan baik agar tak mencuat ke khalayak umum. Karena itu, dibutuhkan sikap dan perlakuan baik dari suami maupun istri dan kerelaan saling menghargai serta tahu akan kewajiban dan hak masing-masing pihak.

Tapi hidup untuk mencari jodoh islami dengan menyatukan dua jenis kelamin, latar belakang, karakter, sifat dan prinsip yang berbeda itu, memang tak gampang. Karena itu-lah, hanya ikatan yang kukuh dan janji untuk terus meme-gang komitmen dan tanggung jawab masing-masing pasangan akan menjadi poin penting yang akan menjadikan pernikahan langgeng dan abadi. Dengan kata lain, dua orang lawan jenis yang berikrar menikah diikat janji suci untuk saling setia, dan tidak mengkhianati.

Berkaitan dengan ikatan pernikahan itu, Allah swt. menyebut sebagai ikatan dan perjanjian yang amat kukuh (mit-saq ghalizh). Tak salah, jika se-tiapkali ada upaya untuk mere-mehkan atau melemahkan janji pernikahan yang suci itu, apalagi memutuskannya, akan dibenci oleh Allah sebagaimana sabda Rasul, "Sesuatu yang (pa-da dasarnya) halal tetapi sangat dibenci (atau paling tidak di-benci) Allah adalah talak (perceraian)" (HR. Abu Daud dan Al-Hakim).

Dari pengertian hadits tersebut, jelas bahwa di mata Nabi, merusak ikatan "suci pernikahan" tak lebih melakukan pelanggaran gawat karena me-ngundang kebencian Allah. Bahkan orang seperti itu, di mata nabi, dianggap tak lagi berhak mendapatkan kemuliaan. Dalam salah satu hadits, nabi bersabda, "Tidak termasuk go-longan kami, siapa-siapa yang berupaya merusak hubungan mesra (atau kasih sayang) seo-rang istri terhadap suaminya." (HR. Abu Daud dan Nasa'i)

Kendati demikian, Allah swt. memiliki keluasan ilmu dan kebi-jaksanaan yang tak terbatas. Allah mengetahui bahwa tidak semua perkawinan bisa ber-langsung damai, kekal dan abadi sampai salah satu dari pasangan itu dijemput kematian. Tak me-nutup kemungkinan, seiring berjalannya waktu, ikatan pernikahan itu tak dapat diperta-hankan lagi dengan berbagai alasan. Bahkan seandainya pernikahan itu pun dipertahankan, justru akan mendatangkan mudharat yang lebih besar, baik terhadap suami, istri atau sang anak.

Menurut Ibnu Sina dalam bukuAsy-Syifa', dibukanya jalan keluar untuk bercerai lantaran jika pernikahan itu dilanjutkan, bisa jadi akan mendatangkan madharat yang lebih besar. Tetapi, hal itu dikarenakan ada alasan kuat dan jadi pintu darurat.

Pertama, bahwa sebagian manusia memiliki watak dan ke-biasaan tertentu yang menja-dikannya tidak bisa hidup da-mai, dan harmonis ketika berdampingan dengan dengan sebagian yang lain. Suami-istri memiliki watak bahkan kebiasaan yang bertentangan sehing-ga sulit untuk disatukan.

Kedua, di antara sekian ba-nyak manusia ada yang bernasib buruk memperoleh pasangan (suami atau istri) yang tak se-padan atau tidak pandai ber-gaul, atau memiliki perangai buruk yang senantiasa menimbul-kan kebencian, sehingga me-nimbulkan rasa ketidaksenangan terhadapnya atau keingi-nan untuk mendapatkan pasangan lain jadi penggantinya.

Kendati demikian, Allah me-nganjurkan supaya masing-ma-sing pihak (suami atau istri) me-nahan diri, sebagaimana firman Allah, "Dan pergaulilah mereka (yakni para istri) dengan sebaik-baiknya. Kalaupun kamu adakalanya tidak menyukai me-reka (maka bersabarlah) siapa tahu kamu tidak menyukai se-suatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang amat banyak (QS. an-Nisa' [4]: 19).

Dalam sebuah hadits, Rasu-lullah juga bersabda, "Jangan-lah seseorang mukmin memben-ci sesorang mukminah. Sekira-nya dia tidak menyukai suatu perangai darinya, pastilah ada perangai lain yang disukai darinya."

Ketiga, alasan keturunan. Adakalanya pula, pasangan suami istri itu tidak berhasil mendapatkan keturunan, sementa-ra jika mereka bercerai dan ke-mudian masing-masing memperoleh pasangan lain, mungkin keadaannya berubah dan berhasil mendapatkan keturunan.

Jadi, setelah anda mencari jodoh dan menjalin hubungan pernikahan maka solusi cerai  semata-mata adalah hanya karena dalam keadaan darutat saja atau sebagai pilihan terakhir karena jika pernikahan diteruskan bisa jadi akan mendatangkan madharat.

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Mencari Jodoh

Laman Kontak Jodoh Islam Mencari Jodoh.Org

Cari Jodoh - Mencari Jodoh - Kontak Jodoh - Biro Jodoh