Cari Jodoh Sakinah

Posted by Situs Cari Jodoh Terbesar on Selasa, 21 Mei 2013

Cari Jodoh Sakinah
Cari jodoh sakinah di kontak jodoh sakinah, biro jodoh muslim online untuk menuju jalinan keluarga sakinah maddah warahmah. Sobatku, Apakah menikah membuat hidup seseorang lebih berkah? Sudah beberapa hari, pertanyaan tersebut menggedor gedor benak Dewi [33 tahun], seorang gadis yang bekerja di sebuah perusahaan swasta. Mulanya, ia tak terusik. Tapi, karena Winda, salah satu sahabat pengajiannya, terus menyindirnya untuk segera menikah dengan bumbu perkataan 'orang yang menikah hidupnya lebih berkah dibanding yang belum menikah,' ia pun tertohok. Ia yang belum menikah tentu saja begitu kesal. Batinnya pun bertanya-tanya: 'betulkah pernikahan membuat hidup seseorang lebih berkah?' ini, ihwal 'berkah menikah' menggoda nalarnya.

Sebagai lajang dan muslimah sejati yang sedang mencari jodoh dan belum menemukan pendamping hidup, keberkahan menikah itu memang seringkali didengarnya. Entah itu bersumber dari kisah kerabat dekatnya atau pun dari buku-buku pernikahan yang pernah dibacanya. Namun, tak sedikit pula, sahabat dan koleganya yang mencurahkan hati kepadanya bahwa setelah menikah hidupnya tidak lebih baik, sebaliknya mereka justru kian terpuruk. Ada yang cerita suaminya di-PHK pasca menikah.

Ada pula yang merasa suaminya ternyata bukan imam keluarga yang baik. Bahkan, ada yang sejak menikah hidupnya dililit hutang tak berkesudahan. Saya kira, Dewi tidak sendiri. Banyak muslimah, juga muslim, yang seringkali dihadapakan pada posisi tersebut.

Seseorang yang sedang cari jodoh sakinah namun belum benar-benar tahu, kerapkali menilai orang lain melalui paradigma oposisi biner [binary opposition]; sebuah cara melihat persoalan dalam kutub yang saling bertentangan—hitam/putih, benar/salah, bagus/jelek, superior/inferior, dan seterusnya, [lihat Yasraf Amir Piliang, Dunia yang Dilipat [Bandung, Mizan, 1998]. Begitu pula pada kasus Winda di atas.

Baginya, status 'keberkahan' lebih memihak kepada yang sudah menikah, bukan kepada yang belum menikah. Bahwa kedudukan 'belum menikah 'itu bertentangan dengan'sudah menikahmaka itu artinya beroposisi biner antara 'kurang berkah' dengan 'lebih berkah'. Dengan kata lain, dalam bahasa yang -maaf—sedikit 'vulgar', mereka yang 'belum menikah 'itu lebih tidak berharga ti-nimbang teman-teman yang 'sudah menikah  mereka yang 'belum menikah 'itu lebih mulia tinimbang mereka yang 'sudah menikah'.

Padahal, fakta berbicara banyak kasus malah sebaliknya. Banyak pasangan suami istri [pasutri] yang setelah menikah justru menimbun konflik rumah tangga yang tak kunjug usai. Mau contoh yang mudah? Tengok saja berita hiburan [infotainment] di teve-teve yang memberitakan huru-hara para selebritas dalam pernikahanya. Para pesohor itu, konon, menikah secara baik-baik, namun tidak beberapa lama kemudian berita kisruh perkawinanya santer diwartakan media massa. Sungguh ironis.

Fenomena ini, setidaknya, menjadi penanda bahwa pernikahan bukan tolak ukur kehidupan seseorang menjadi 'lebih berkah', 'lebih baik' atau 'lebih bernilai'. [Meski, kita harus akui, banyak pula pasutri yang merasakan senarai anugreah dan indahnya kehidupan lantaran menikah dan menjadi keluarga yang sakinah.]

Untuk itu, fenomena ketidak berkahan tersebut menjadi penguat dalih bahwa selama ini kita senantiasa terjebak pada mindset [pola pikir] hi-tam-putih dalam menilai perkara ini. Inilah model kesalahan berpikir yang kerapkali kita praktikkan, tidak hanya pada kasus pernikahan, tapi juga pada hal-ihwal lainnya. Kita tidak bisa menyimpulkan seseorang pada label dan status yang melekat pada dirinya, kita tidak bisa juga menilai keberkahan seseorang melalui label 'kawin ' atau 'belum ka win' seseorang. Bagaimana dengan banyak ulama dan sufi yang hingga ajal menjemputnya belum menikah, seperti Imam Nawawi, Sayyid Quthb, Ibnu Taimiyyah, Rabi'ah al-Adawi-yah dan lain-lainya? Apakah hidup mereka lebih buruk dan kurang berkah lantaran statusnya yang bujang itu? Tentu tidak! Apalagi mereka masyhur sebagai tokoh yang ilmu dan amal ibadahnya sungguh tak terkira. Karya-karya mereka pun mampu me-nginpirasi dan mengubah dunia.

Begitu pula dengan contoh muslimah atau muslim lajang yang banyak mencurahkan pikiran dan materinya untuk membantu keluarga dan orang tak mampu di sekelilingnya. Dengan segugus amal ibadahnya itu, apakah hidup mereka menjadi tidak berkah karena 'belum menikah'?

Karena itu, sungguh picik bila ada orang hamba Allah yang mengaku muslim masih berkutat dalam mind-set hitam putih. Terlebih, dalam fir-man-Nya, Allah menyebutkan:

"Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya "[QS. Huud: 7]. Ayat ini meneguhkan bahwa bukan status 'belum atau sudah menikah' hamba-Nya yang menjadi takaran, melainkan amal ibadah si hamba itu; ya perilakunya, perbuatannya, perkataanya, dan ahlaknya.

Ini berarti, dalam konteks pernikahan sakinah, kita baru bisa menyematkan label keberkahan dan sakinah maddah warahmah pada pasutri yang memperlakukan pasangannya dengan baik, yang mengasihinya tiada henti, yang menyayanginya tiada bertepi, yang menutupi kelemahan masing-masing dengan kelebihan masing-masing, yang mengerti bagaimana mengikuti sunnah Rasulullah dalam berumah tangga.

Blog, Updated at: 21.12.00

0 komentar:

Poskan Komentar

Cari Blog Ini

Entri Populer