Problematika Pra Nikah

Posted by Situs Cari Jodoh Terbesar on Jumat, 05 Juli 2013

Problematika Pra Nikah
Acap kali pernikahan diawali selisih paham dengan orangtua, calon mertua, calon ipar juga para kerabat. Fase ini cukup banyak membuka medan persengketaan bagi calon pengantin. Tak jarang impian pernikahan pupus gara-gara restu tak kunjung turun. Alhasil, sangat diperlukan kejelian mengatasi rumitnya meyakinkan pihak-pihak tersebut. Jangan sampai perkara lobi melobi ini menjadi kisah sedih yang mengandaskan cita-cita menyempurnakan agama. 

Rumitnya meyakinkan Orangtua, Calon Mertua dan kerabat
Kasihan sekali si Yodi. Saat ini, ia banyak bermuram durja nun jauh di negeri rantau. Jasadnya terbujur di ibukota, tapi jiwa dan pikirannya tercecer di kampung halaman. Tiga bulan belakangan
dia sakit-sakitan. Obat-obatan dokter maupun terapi alternatif tak kuasa memberi kesembuhan. Pengobatan itu baru pada jasad, padahal sakit itu bercokol di jiwa. Gara-gara kisah cintanya terka-tung-katung.
Semuanya berpangkal mula dua tahun silam. Tatkala, di senja yang mendung ia terpikat aura cerah seorang dara. Dengan mudahnya ia tawarkan pernikahan, dan secepat itu pula Novi meng-iyakan. Maka, dengan langkah gagah ditemui orangtua, calon mertua dan karib kerabat.

Tetapi, berita yang mestinya menjadi kabar gembira malah mendapat sambutan pahit. Beribu alasan penolakan menerpa bertu-bi-tubi. Rantai panjang persoal an dilontarkan; mulai masalah asal usul, perbedaan status, belum mapan, berbagai kemungkinan buruk, sampai tetek bengek adat dibawa-bawa.

Segala macam jurus sudah dicoba; bujukan, rayuan, tangisan sampai ratapan. Semuanya mentah di hati orang-tua yang membatu. Karib kerabat malah ikut memperkeruh suasana dengan menuntut macam-macam. Ketika Yodi dan Novi bersikukuh, justru kemarahan yang meledak plus sumpah serapah.

Masalah yang berlarut-larut menguras energi lahir batin. Saat mengendarai sepeda motor, Yodi hilang konsentrasi. Dhuuaarr...! Yodi terjungkal dan terguling-guling. Orang-orang menjerit melihat kepalanya nya satu jengkal dari ban mobil. Nyaris    saja!

Novi pun memikul lara tak kalah hebatnya. Gadis ayu itu tak sanggup memikul beban batin, la terkulai tiada daya. Wajah putih atau calon mertua dan kerabat merupakan pernak-pernik di ambang pernikahan. Jika tak hati-hati menitinya, harapan menikah tak akan pernah kesampaian. Inilah saat-saat genting yang menguji kekuatan batin calon pengantin. Apakah mundur atau terpukul saat terbentur tembok restu?

Sebenarnya itu hanyalah problem of meaning alias masalah pemaknaan. Pemaknaan yang melebihi batas wajar untuk hal sederhana, biasanya disebabkan isi kepala yang disesaki timbunan prasangka.

Pemaknaan yang beda jadi pangkal sengketa. Orangtua, calon mertua dan kerabat memaknai pernikahan anak dalam bingkai kerisauan, keraguan dan kegamangan. Orang tua memandang anak belum siap, harus menyelesaikan kewajiban lain terlebih dahulu, terlalu lancang, dan sangat terburu-buru. Sedangkan anak memaknai pernikahannya dengan keyakinan, keseriusan dan keteguhan. Anak yakin sanggup menghadapi seburuk apapun kondisi. Sementara orangtua memandang pernikahan tak cukup modal keyakinan saja. Nah, dua kutub inilah yang perlu dijembatani secara harmonis. Adapun marah, kesal, sedih, kecewa itu hanyalah bunga-bunga belaka dari sebuah proses.

Shafra M. Ag juga mengamini soal beda pemaknaan ini. Dosen Fikih Munakahat STAIN Bukittinggi ini meyakini bahwa sebenarnya penolakan orangtua atau pihak kerabat berada dalam proses selektif memilih calon pasangan bagi anak. Tindakan itu sebagai upaya preventif untuk melindungi anaknya agar tak terjebak pilihan yang salah, sekaligus wujud tanggung jawab terhadap Allah. Pada prinsipnya orangtua tentu menginginkan yang terbaik bagi buah hatinya.

Tak perlu khawatir berlebihan dengan rumitnya proses meyakinkan orangtua, calon mertua atau pihak kerabat. Sebab perkara terpenting sudah beres, yaitu meyakinkan diri sendiri dan pasangan. Orangtua, calon mertua dan pihak kerabat sebenarnya adalah out sider alias orang luar dari diri kita. Pada hakikatnya, jika Anda dan calon pendamping sudah yakin, itulah sesungguhnya modal terbesar untuk masa depan cinta. Sebab meyakinkan orang lain adalah kondisi yang jauh lebih gampang dari pada keyakinan diri yang tak ada.

Kita perlu memperjelas dimana posisi terhambatnya. Jika yang tak setuju ibu, jangan serta merta ayah, kakak, adik, kakek, nenek, paman, bibi dan semua kerabat dimusuhi. Mereka adalah aset berharga untuk meyakinkan pihak yang ragu. Dengan memusuhi seluruhnya langkah maju akan semakin pelik sebab pihak yang anti semakin berjubel. Sejatinya, tak ada yang pantas dimusuhi. Mereka hanyalah belum yakin, itu saja masalahnya.

Setelah itu fokuskan masalah, perjelas apa yang menjadi poin penting yang membuat restu tak kunjung turun. Apakah masalah adat, beda suku, belum cocok calon mantu, masih kuliah, belum mapan dan lain-lain. Seringkali orangtua atau calon mertua membuat seribu satu alasan. Anda mesti jeli memfokuskan yang mana benar-benar masalah. Dari sepanjang itu alasan penolakan, ternyata yang jadi persoalan hanya cara Anda yang kurang tepat atau perkenalan dengan calon mertua yang belum hangat. Seringkali masalah itu sepele, seperti belum siap kehilangan anak tercinta atau belum yakin anaknya siap nikah. Nah, fokuskanlah pikiran Anda untuk menyelesaikan satu inti masalah saja.

Dalam proses tersebut, hindari sikap-sikap konfrontatif. Lazimnya orang tua pantang disanggah apalagi disalahkan. Hindari sikap menentang dengan berhadap-hadapan melawan arus. Api tak bisa dilawan dengan api, hanya kepala dingin dan hati jernih yang bisa memadamkan kobaran amarah.

Tidak ada salahnya, mencari pendekatan melalui pihak ketiga. Memilih juru damai yang bisa memahami komflik dan perselisihan yang sedang dihadapi. Sosok yang harus dipilih pun harus memenuhi kriteria yang bisa diterima oleh kedua belah pihak sebagai pendamai. Sosok yang bisa masuk dan menyelami, bakan mampu menjadi sarana win-win soluti-on, sehingga ketegangan antara calon dengan orang tua dapat diselesaikan, bahkan berakhir dengan saling menerima dan menuai akhir kebahagiaan.

Tunjukkanlah kesungguhan dan pelihara semangat pantang mundur. Ibarat air mengalir meski dihambat batu besar, ia tetap mengalir dengan pindah alur. Bila Anda bertemu masalah kreatiflah membuat cara pendekatan yang baru. Meski air dihadang dengan tembok beton, ia akan tetap naik ke atas dan terus melimpah. Kemudian air terus mengalir melampaui tembok beton dan tak akan pernah bisa dihambat menuju laut. Filosofi kegigihan air itulah yang patut ditiru dalam soal kesungguhan.

Patut pula diciptakan waktu rehat untuk jeda. Sedahsyat apapun perang akan diakhiri dengan gencatan senjata, apalagi cuma perselisihan dalam keluarga. Jangan paksakan bahwa masalah harus selesai seketika itu juga. Setelah kita memberi alasan-alasan syar'i dan logis serta kesungguhan yang tak pernah padam, selanjutnya berilah orangtua atau calon mertua kesempatan merenung. Mereka juga manusia, tentu punya akal dan hati.

Mengarungi masalah ini, peran doa punya kekuatan tersendiri yang bertalian erat dengan zat maha tinggi, Allah swt. Sekeras apapun hati, insyaallah akan luluh dengan hidayah Allah. Sehingga, iringilah kerasnya usaha dengan kedalaman doa.
-->

Blog, Updated at: 21.45.00

0 komentar:

Poskan Komentar

Cari Blog Ini

Entri Populer