Bila Istri Lebih Nyaman Di Rumah

Posted by Situs Cari Jodoh Terbesar on Minggu, 24 November 2013

http://www.mencarijodoh.org/
"Saya hanya ibu rumah tangga..." dengan malu-malu dan tersipu seorang ibu muda yang team kontak jodoh temui di salah satu pusat perbelanjaan ibu kota, menjawab tentang profesi apa yang digelutinya sekarang.
Sedangkan di kalangan mereka para suami yang pernah team biro jodoh temui, ada di antara mereka yang malu untuk menjawab profesi istrinya, apabila istri mereka bukanlah seorang dokter, insinyur, guru, atau profesi terhormat lainnya. Tak lain dan tak bukan, jawaban yang muncul adalah: "Biasalah di rumah saja, mengurus anak-anak, cuma ibu RT... ngga ada aktivitas lainnya!" Duh, sebegitu hinakah profesi ini?

BANGGA MENJADI IBU RUMAH TANGGA

Berbeda dengan Zoya (nama samaran), yang semenjak usia 20 tahun-an berkarier di dunia fashion sebagai designer muda. Setelah menikah dengan Varel (nama samaran), menjadi istri, dan menjadi ibu dari anaknya Vigo (nama samaran), dia pun bangga de-ngan karier barunya sebagai Ibu Rumah Tangga sekaligus designer.

Zoya tetap menjadi dirinya sendiri: seorang designer sekaligus seorang ibu. "Ibu rumah tangga itu suatu karier yang sangat istimewa dan tidak pernah ada berhentinya", demikian tuturnya. Varel, sang suami juga sangat mendukung karier Zoya sebagai designer, dan sangat menghargai komitmen Zoya untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik. "Sebagai suami Zoya dan bapak dari Vigo, saya merasa sangat bersyukur memiliki mereka, untuk itu saya akan selalu berusaha untuk membahagiakan mereka dan bertanggung jawab atas masa depan keluarga", demikian Varel.

Zoya seorang ibu yang punya konsentrasi penuh untuk melahirkan dan mengasuh anaknya. Dia menyusui Vigo sampai umur dua tahun dan Zoya membawanya ke mana pun dia pergi. "Saya tidak merasa repot atau terbebani, punya anak dan bisa menjadi istri yang baik, merupakan nikmat batin yang tidak bisa digambarkan, pokoknya senang!", ungkap Zoya bersemangat. Dia sangat menikmati menjadi seorang ibu dari anaknya, Vigo dan istri dari suami tercintanya, Varel. Dia mempunyai cara pandang berbeda dari banyak wanita karier pada umumnya.

"Yang terpenting adalah bagaimana menata diri menjadi ibu rumah tangga yang baik dan menjadi ibu rumah tangga yang profesional juga", demikian Zoya.

IBU RUMAH TANGGA DI ERA MODERN
Menilik kisah Zoya, hendaknya kita bisa mengambil sisi positifnya sebagai wanita karier yang sangat bangga menjadi ibu rumah tangga. Namun, tidak bisa dipungkiri, seiring dengan berkembangnya zaman, teknologi, dan gaya hidup, pola pikir dan cara pandang masyarakat pun menjadi berubah. Tak terkecuali pandangan terhadap wanita yang memilih bekerja di rumah alias berprofesi sebagai ibu rumah tangga.

Di era yang penuh persaingan seperti saat ini, sudah sangat jarang para wanita atau para ibu muda yang lebih memilih "di rumah", karena terkesan tidak kreatif atau tidak punya keahlian lain yang bisa dibanggakan! Padahal, pada kenyataannya, menjadi ibu rumah tangga itu berat! Bahkan suami, ayan, adik, kakak, maupun tetangga, tidak dapat membantu pekerjaan tersebut menjadi lebih ringan. Anda bisa buktikan dan lakukan sendiri, bila ingin tahu kebenarannya!

Suatu fakta yang tidak bisa dipungkiri bahwa para ibu di kalangan wanita modern memilih "melarikan diri" dari tugas dan tanggung jawabnya sebagai ibu dengan bekerja di luar rumah. Banyak dari mereka berujar, lebih mudah bekerja daripada tinggal di rumah mengasuh anak. "Mengasuh anak membuat saya stressf, demikian ungkap salah satu dari mereka. Bukankah itu suatu bukti bahwa mengurus anak-anak adalah suatu pekerjaan dan tanggung jawab yang berat?

SEBESAR APA PENGAHARGAAN SEORANG SUAMI/BAPAK?
Tidakkah Anda melihat bahwa seorang istri atau ibu 'di rumah' tidak pernah berhenti dari tugasnya? Jika para suami mempunyai jam kerja yang terbatas antara 8-10 jam misalnya, maka sesungguhnya seorang ibu rumah tangga mempunyai jam kerja yang lebih panjang yaitu selama 24 jam. la harus standby (selalu siap) kapan saja diperlukan. Bila diantara anggota keluarga ada yang sakit, siapakah yang bergerak terlebih dahulu?
Bukankan seorang ibu/istri adalah dokter pribadi sekaligus perawat (suster) bagi suami dan anak-anaknya? Karena beliaulah yang akan berusaha meringankan beban sakit "sang pasien" di rumah sebelum dibawa ke rumah sakit (yang sebenarnya), apabila ternyata sang ibu tidak sanggup mengobatinya. Pernahkah Anda memikirkan berapa jumlah uang yang harus Anda keluarkan untuk membayar seorang dokter dan perawat pribadi di' rumah Anda?

Bukankan seorang istri/ibu juga dituntut untuk pandai memasak? Pernahkah Anda membayangkan wahai para suami, Anda memiliki juru masak di rumah yang selalu siap Anda perintah kapan saja Anda mau. Anda memiliki juru masak pribadi di rumah, ketika Anda pulang ke rumah maka hidangan lezat tersedia bagi Anda dan juga untuk anak-anak Anda. Pernahkah Anda membayangkan berapa juta uang yang harus Anda keluarkan untuk memanggil juru masak pribadi datang ke rumah Anda?

ISLAM MENGHORMATI PROFESI IBU RUMAH TANGGA
Anda tentu pernah membaca syair Arab yang sangat terkenal yang berbunyi: "Al-Ummu madrasatun idza a'dadtaha a'dadta syaban tayyibul araq" maknanya "seorang ibu adaah sebuah sekolah. Jika engkau persiapkan dia dengan baik maka sungguh engkau telah mempersiapkan sebuah generasi yang unggul". Di-tangan ibu lah masa depan generasi sebuah bangsa. Karena itulah islam sangat menghormati dan menghargai profesi ini.

Kenyataan yang tidak bisa dipungkiri, bahwa kedudukan ibu tiga lali lebih tinggi dibandingkan sang ayah. Karena Islam melihat tanggung jawab yang berat yang diemban seorang ibu, itu menandakan bahwa menjadi seorang ibu rumah tangga adalah profesi yang mulia dan sangat terhormat.

Jadi tidak perlu malu untuk mengangkat wajah dan mengatakan dengan bangga bahwa aku adalah seorang "ibu rumah tangga!", sebuah profesi yang sangat berat dan tentu saja pahala yang sangat besar Allah sediakan untuk mereka para ibu. Al-jaza'u min jinsil amal artinya balasan tergantung dari amal atau perbuatan yang ia lakukan'. Semakin berat atau sulit sebuah amal dilakukan seorang hamba maka pahala yang akan didapatinya pun semakin besar. Wallahu a lam bisshawwab.

BOLEHKAH JIKA MEMILIH BEKERJA?
Pilihan untuk tinggal di rumah sebagai ibu rumah tangga atau bekerja terlepas dari beban e-konomi yang memaksa pilihan lain, sebenarnya tergantung pada masing-masing pasangan suami-istri. Tidak semua suami suka jika istrinya memilih bekerja, seperti halnya tidak semua suami suka jika istrinya berdiam saja di rumah.

Bukan soal bahwa pilihan tinggal di rumah adalah hal yang ketinggalan jaman, ngetren dan tidak kreatif atau mengekang kebebasan perempuan', tetapi tipe suami tidak hanya satu. Ada yang pencemburu, sehingga lebih suka jika istrinya tidak banyak berinteraksi dengan laki-laki lain (yang mungkin dijumpai di tempat kerja).

Ada yang sangat paham dengan dinamisme istri, yang semasa kuliah adalah aktivis yang tidak tahan berdiam diri, sehingga resiko interaksi istri dengan lelaki lain telah diantisipasi baik-baik. Tipe istri juga tidak hanya satu. Pilihan untuk berkarya tidak serta merta menjadikan istri sebagai  penjahat komunitas. Suami yang tidak egois tentu berusaha memahami pribadi istrinya baik-baik dengan tidak memaksakan sua-tu keputusan. Tidak sedikit istri yang awalnya memilih berkarier di luar rumah, memutuskan untuk kembali ke rumah, menjadi ibu rumah tangga setelah merasakan kerasnya dunia kerja. Jadi suatu keputusan yang Anda buat, belum tentu menjadi pilihan hidup Anda selamanya. Seperti tidak semua orang selalu benar atau selalu salah.

SUAMI, PERHATIKAN!
(1) Ketika penghasilan Anda sebagai suami belum mampu menopang seluruh kebutuhan pokok rumah tangga, tidak salah jika istri bersedia untuk sumbang tenaga dengan bekerja di luar rumah. Jika istri lebih memilih 'di rumah', sarankan untuk membuka usaha di rumah, sehingga istri tidak jenuh.

(2) Jika anak dari ibu bekerja terkesan nakal dan kememampuan sosialnya kurang bisa diterima oleh orangtua anak lain, maka si ibu disalahkan. Ibunya sih kerja, anaknya nggak diper-hatiin deh!". Tapi jika anak dari ayah yang bekerja di rumah juga memiliki sifat yang sama, sang ayah tidak lantas dicap sebagai ayah yang tidak perhatian dan kurang bisa mendidik anak'.

( 3 ) Tugas utama ayah memang memberi nafkah keluarga, namun tidak berarti ayah tidak mempunyai andil penting dalam pendidikan anak.

(4) Bukan hal yang bijak jika Anda menyalahkan ibu bekerja' atas keadaan anak. Ibu bekerja belum tentu abai. Buang jauh-jauh pikiran bahwa ibu "di rumah" saja belum tentu bisa memberi output' anak yang memuaskan, apalagi yang bekerja di luar rumah.

(5) Istri Anda mengejar karir? Bukanlah hal yang negatif, asalkan perannya sebagai ibu tetap dilakoni dengan baik.

ISTRI, PERHATIKAN!
(1) Sulit sekali memang, jika Anda menjalani dua peran sekaligus. Tetapi dengan menjalani peran ganda, mungkin Anda akan lebih menghargai waktu untuk berkarier dan keluarga, daripada menjadi ibu rumah tangga, tetapi banyak waktu terbuang hanya untuk berGOSIP!

( 2 ) Jika dengan bekerja Anda menjadi lebih bahagia, maka Anda punya banyak ketenangan dan kebahagiaan untuk dibagi kepada anak-anak dan suami.

(3 ) Jika dengan tinggal di rumah Anda menjadi sungguh tidak bahagia dan tertekan sepanjang waktu, maka Anda tidak punya lagi kebahagiaan dan sakinah yang dapat dibagikan kepada keluarga.

( 4 ) Intinya, bukan pada bekerja atau tidaknya Anda, tapi kesiapan dan ketenangan batin dalam menjalani peran Anda sebagai ibu rumah tangga atau ibu berperan ganda.

( 5 ) Jika memilih bekerja, jangan jadikan alasan kesibukan karier Anda sebagai pengurang konsentrasi Anda untuk keluarga. Harus profesional menjalani keduanya!



Blog, Updated at: 14.14.00

1 komentar:

  1. siapa yg mw jdi istri ku
    aku terima
    telepon 081262193260

    BalasHapus

Cari Blog Ini

Entri Populer