Gagal Menikah BUKAN Berarti Dunia Kiamat !

Posted by Situs Cari Jodoh Terbesar on Kamis, 14 November 2013

http://www.mencarijodoh.org/
Hati siapa yang tak merintih bila beberapa hari menjelang hari H, tiba-tiba calon pendamping hidup membatalkan rencana pernikahan. Bagaimana dengan ratusan undangan yang sudah tersebar, katering jamuan yang sudah dipesan dan orkes yang sudah diorder? Dimana menaruh muka ketika bertemu orangtua, sanak famili, handai tolan, para sahabat dan segenap manusia yang terlanjur menyambut berita gembira? Gagal menjelang hari H bukan berarti habis kesempatan untuk bahagia. Asalkan bijaksana menyikapinya, kegagalan justru akan membuka gerbang keberhasilan yang lebih dahsyat.

Seumur-umur belum pernah Naya merasakan keperihan seperti sekarang. Pada detik-detik terakhir, harapannya bersanding di pelaminan kandas melalui episode memilukan. Sulit dipercaya dan tak pernah diduga. Padahal selama ta'aruf, Nurdi tampil bak pangeran berhati pualam. Sayang kekaguman itu sirna begitu cepat. Nurdi yang dikira lelaki baik ternyata durjana kelas kakap. Naya dicampakkan setelah seorang wanita hamil muda datang menuntut tanggung jawab.

Berbeda dengan Toyo yang mendadak loyo, pernikahan yang di-ambang mata ia batalkan sendiri. Bukan karena faktor adat atau orang-tua. Keputusan itu dibuatnya sendiri pada detik-detik menjelang hari H, ketika Mutia berterusterang kalau dirinya sudah ternoda. Toyo langsung meradang, harga dirinya terkoyak moyak. Bagaimana mungkin membina cinta suci dengan perempuan yang punya sejarah kelam?

Sementara Ridwan sudah berhias dengan busana pengantin yang gemerlap. Pagi ini ia dijadwalkan bersanding di pelaminan. Bujangan itu sering tersenyum simpul membayangkan gadis jelita pilihan orang-tuanya. Lagi-lagi sayang, senyumnya berumur pendek ketika kabar sahih datang mengguncang. Ternyata gadis itu menolak perjodohan ala zaman Siti Nurbaya. Pagi-pagi buta ia kabur dengan pria idamannya. Tragis!

Eksternal atau Internal
Secara biologis, kita memang siap menikah, namun sayangnya seringkah belum diiringi dengan kematangan ekonomi, rohani, sosial dan emosional. Sehingga hal ini bisa saja menjadi satu indikasi yang dapat mengakibatkan rencana pernikahan pada saat dimana upacara sakral yang telah dirancang secara matang gagal terlaksana.

Ada banyak sebab yang bisa menjegal, diantaranya calon yang berubah pikiran, salam paham antara keluarga, ketidakcocokan adat, sikap yang melukai hati dan lain-lain. Tapi yang paling menyakitkan itu bila tidak jelas sebab musababnya dan si dia pergi bagai angin lalu.

Ibu Endang Rosmala Dewi, M. Ag, mantan dosen Universitas Islam Riau menjelaskan bahwa secara umum ada dua faktor penyebab yang melatarbelakangi gagalnya hari H pernikahan. Pertama faktor eksternal, dimana hambatannya muncul dari luar diri calon pasutri, bisa dari orangtua, sanak famili, kalangan adat, bencana alam dan lain-lain. Penyebabnya karena memegang teguh tradisi, tingkatan strata yang berbeda, berharap anaknya berjodoh dengan yang lebih sepadan. Sebab lain, bisa datang dari pihak ke tiga (orang-orang yang tidak suka pernikahan itu terlaksana).

Ibu dua anak yang baru memulai karir sebagai hakim di peradilan agama Rengat, Riau ini melanjutkan faktor kedua yaitu internal, dimana pasangan calon pengantin sendiri yang bersengketa. Seperti tidak ada keterbukaan di antara kedua calon mempelai tentang jati diri, contohnya calon suami ternyata sudah punya istri, bisa juga karena hubungan yang sudah terlalu jauh antara pria dan wanita. Hubungan yang tidak lagi islami akhirnya menodai kesucian, maka bisa saja sang pria lari dari tanggung jawab. Kegagalan juga bisa disebabkan karena dalam proses menuju pernikahan salah satu pihak memperlihatkan sifat aslinya yang tidak baik. Sehingga pada akhirnya dengan berat hati salah satu pihak membatalkan pernikahan.

Banyak cara orang menyikapi kondisi pelik ini; ada yang menjerit pilu, menangis perih, pingsan atau bunuh diri. Sebagiannya menempuh jalur hukum dengan pasal penghinaan dan polisi pun dibawa turut campur. Pada puncak emosi yang meledak, bagi yang gelap mata segera menghunus senjata sambil mencanangkan semboyan lebih baik pulang nama daripada menanggung malu. Mirisnya, pertikaianpun tak jarang sampai menumpahkan
darah. Nauzubillah... Kenapa sedemikian mengerikan dampaknya? Tak perlu kaget, gagal menikah tergolong derita yang paling perih.

Sebab cinta merupakan kebutuhan jiwa yang amat penting. Kepedihan itu semakin sakit bila harapan kan das beberapa saat saja menjelang hari H digelar. Bukan hanya sakit, tetapi juga ada rasa pilu, malu bah kan terhina. Tak jarang orang memilih langkah mengerikan guna melampiaskan amarahnya.

Tak usah heran, memang demikianlah efek dari lepas kontrolnya diri. Apalagi masalahnya tersangkut paut dengan harga diri, maka urusannyaakan lebih rumit daripada mengurai benang kusut. Maka jurus ampuh yang pertama diambil adalah meredam emosi yang menyala-nyala.
Apa sih yang tak akan selesai dengan kesabaran? Patah Tumbuh Hilang Berganti. Kendati Anda dilanda patah hati, yakinlah bahwa cinta masih bisa ditumbuhkan. Kalaupun harapan terindah itu sempat menghilang, toh kita masih punya kesempatan mencari jodoh yang lebih baik. Kualitas
orang beriman terlihat pada bagaimana dia menyikapi kondisi terburuk dengan sebaik mungkin. Meski gagal menyelenggarakan hari H, percayalah dunia belum kiamat!

Terkadang kita harus terlebih dahulu menemui orang yang salah, sebelum benar-benar menemukan pasangan sejati. Seiring itulah dibutuhkan kekuatan kita untuk koreksi diri meski terasa berat karena sangat terkait dengan hati. Belajar dari kegagalan dengan terlebih dahulu memetik hikmah.

Solusinya bila tersangkut faktor internal, dimana pasangan calon pengantin sendiri yang bersengketa, maka pembicaraannya harus lebih intens. Kedua belah pihak mempertanyakan kembali duduk masalah dan apa yang bisa jadi jalan keluar. Di sini peran pihak ketiga akan sangat membantu sebagai mediator. Keuntungannya, polemiknya hanya melibatkan dua belah pihak. Kelemahannya, inilah kondisi yang paling berat sebab dua insan yang akan menikah sendiri yang bertikai.

Sedangkan fator eksternal, kedua calon pengantin bisa bersatu padu menghadapi halangan tersebut. Keuntungannya, masalah cuma terpaut dengan orang lain. Jadi serumit apa pun selama hati calon pa-sutri teguh, insyaAllah niat menikah lambat laun akan terwujud. Kelemahannya, butuh kesabaran ekstra meyakinkan banyak pihak lain.

Kiamat yang dimaksud judul adalah suatu waktu dimana tak ada-lagi kesempatan ikhtiar, kecuali berserah diri pada roda takdir. Nah, gagal di hari H, setragis apa pun bukanlah akhirdari sejarah cinta. Meski pernah gagal, pilihannya masih ada dua; ingin melanjutkan atau berhenti sampai di sini.

Sebaiknya, digagas kembali rencana pernikahan. Terutama untuk kasus kegagalan yang disebabkan faktor eksternal. Bila disebabkan pihak keluarga atau pihak lain yang buat ulah, maka bisa dicarikan solusi. Asalkan jangan cepat-cepat sakit hati dan langsung tutup pintu hati. Bila ujungnya tetap pahit dan dua hati tak mungkin disatukan atau terlalu besar resiko bila niat dilanjutkan. Maka perpisahan tetaplah ditempuh dengan cara yang terbaik. Ya, sebaik cara ketika pertama kali merencanakan pernikahan. Tali pernikahan boleh saja putus, namun tali ukhuwah mestilah terjaga.

Dalam melangkah kita sering abai melihat secara adil dua aspek kemungkinan yang salah satunya pasti terjadi; berhasil atau gagal. Perhitungan yang terlalu sempurna pada keberhasilan dan persiapan yang minim tentang kemungkinan gagal menjadi akar dari terhempasnya jiwa saat menemui jalan buntu.

Sebenarnya, justru kegagalan yang mendekat kita pada keberhasilan. Mata batin kita sudah awas mencermati ranjau-ranjau jebakan, sebab orang mukmin lak akan jatuh dua kali di lubang yang sama. Kegagalan menguatkan jiwa karena ditempa menjadi perkasa dan jauh dari kemanjaan. Nah, dunia belum berakhir, bukan!?

Blog, Updated at: 14.05.00

1 komentar:

Cari Blog Ini

Entri Populer