Garis Jodoh dalam Islam

Posted by Situs Cari Jodoh Terbesar on Selasa, 05 November 2013

http://www.mencarijodoh.org/
Ada Tiga hal yang menjadi ketetapan (takdir) Allah atas manusia: mati, jodoh dan rezeki. Namun, jangan salah, percaya pada takdir Tuhan bukan berarti bersikap pasif, cepat menyerah, dan tanpa ada usaha (inactivity).

Garis jodoh, salah satu yang dipandang amat misterius bagi manusia. Susah ditebak, ditolak dan dielakkan adanya. Begitu sulitnya diraba dan diotak-atik, maka banyak orang meyakini jodoh sebagai salah satu misteri ilahi. Betapa banyak orang tampan rupawan yang menginginkan pasangan yang cantik jelita, malah mendapat jodoh yang tak sesuai kriteria ideal yang diinginkan sebelumnya. Atau, seseorang dengan penampilan fisik dan harta yang serba pas-pasan, justru bisa bersanding dengan pasangan yang amat sempurna dalam segala hal. Tak sedikit juga anak remaja berasal dari daerah pedesaan menginginkan pasangan yang sedaerah, sekultur, dan segolongan, malah dipertemukan dengan jodoh yang letak geografisnya amat jauh dari  lingkungannya. Itulah garis jodoh, sesuatu yang terkadang sebelumnya tak pernah terbayangkan dan tak terpikirkan.

Di luar kasus-kasus di atas, banyak juga para bujang yang tak jua dihampiri jodoh. "Ini mungkin sudah menjadi takdirku. Aku sudah mencari perempuan untuk bisa dijadikan pasangan hidup, tetapi hingga sekarang belum dapat juga. Takdirku mungkin digariskan jadi bujang". Itulah keluhan-keluhan kaum bujangan yang kerap kita dengar. Bertolak dari pelbagai fenomena tersebut, jodoh diyakini sebagai garis takdir yang sudah ditentukan Allah. Ada sabda Nabi Muhammad saw. yang cukup terkenal dan sering jadi dalil untuk melegitimasi. Bahwa ada tiga hal yang menjadi ketentuan (takdir) Allah bagi manusia: mati, jodoh dan rezeki.

Bagi mereka yang kurang memahami secara kritis, ketentuan takdir Allah tersebut dipahami secara taken for granted dan cenderung menjadi kaum fatalistik yang menafikan nilai ikhtiar (usaha) manusia. Mereka yang memahami takdir semacam ini, terjebak dalam model pemahaman orang-orang golongan Jabariyah (aliran Islam yang meyakini segala sesuatu yang terjadi pada manusia mutlak kehendak Allah, sehingga tak membutuhkan ihktiar manusia). Pemahaman tersebut pada gilirannya a-kan membawa sikap pasif dan mudah menyerah pada keadaan.

Pemahaman akan konsep takdir soal jodoh akan mempengaruhi sikap seseorang dalam memandang persoalan-persoalan menyangkut misteri jodoh dan keinginan seseorang ketika memutuskan untuk menikah. Tampaknya, ada beberapa kekeliruan dalam cara kita mendefinisikan jodoh dan takdir serta hal-hal yang dianggap sebagai takdir itu. Kekeliruan tersebut terletak pada soal bahwa takdir sudah ditentukan dari dananya'. Dalam keyakinan common sense, soal pasangan dipandang sebagai takdir jodoh yang sudah ditentukan sejak dulu (zaman azali), sehingga manusia hanya mengikuti garis jodoh yang telah ditentukan itu.

Beberapa kekeliruan di sini bisa dijelaskan dalam 2 contoh: Pertama, kalau seseorang menikah, misalnya si A dan si B yang dianggap takdir jodoh, mengapa banyak kejadian orang yang sudah menikah lantas bercerai. Di sini, patut dipertanyakan ulang, benarkah jodoh merupakan takdir yang benar-benar ajeg ataukah bersifat temporal, dinamis dan berjangka. Kedua, kalau jodoh memang sudah ditentukan Allah yang tidak bisa berubah sejak dari 'sana', lalu apa fungsinya Rasulullah saw. bersabda: 'Menikahlah kamu dengan seorang perempuan karena agamanya, hartanya,....... ' Sabda Nabi tersebut jelas mengisyaratkan, jodoh itu mesti dicari dan diusahakan dan tentu saja membutuhkan ikhtiar manusia, bukan semata ditentukan dari 'sana'.

Bertolak dari dua argumentasi dan logika di atas, maka pemahaman umum bahwa jodoh merupakan takdir yang tak bisa diotak-atik, bisa dimentahkan. Pemahaman secara kritis ini penting untuk memaknai ulang arti takdir dalam soal jodoh yang selama ini kerap dipahami secara salah kaprah. Tulisan ini bukan berpretensi untuk menafikan takdir Allah, namun mencoba meluruskan pemahaman yang salah kaprah yang dapat melahirkan sikap fatalisme seseorang. Bahwa jodoh merupakan garis takdir, terkadang berakibat bias dalam cara kita mendefinisikan qodho' dan qodar.

Dalam konsep teologi Islam qadha' merupakan ketetapan Allah saat zaman azali (saat manusia belum diciptakan). Sedangkan qadar dimaknai sebagai pelaksanaan dari qadha` tingkat praksis. Dengan mengenakan model makna ini, kalau diambil sebuah contoh akan jelas, misalnya, sudah menjadi qadha' Allah kalau si A jadi pasangan si B.

Artinya, jodoh mereka berdua itu sudah menjadi ketetapan Alah sejak zaman azali. Soal bagaimana si A dan si B keduanya menikah adalah qadar Allah. Usaha Manusia Sebenarnya, konsep takdir dan qadha masuk dalam wilayah yang sudah lama diperdebatkan dalam sejarah teologi Islam, hingga melahirkan aliran-aliran (sekte-sekte) yang berkembang dalam Islam. Penganut paham Jabariyah memandang semua yang terjadi di dunia merupakan kehendak Allah mutlak, tanpa ikhtiar manusia. Sebaliknya, penganut Qadariyah meyakini apa yang terjadi pada manusia, mutlak atas hasil usaha manusia. Dari dua sekte Islam yang secara ekstrim saling bertentangan tersebut, lahir kelompok Sunni yang dikenal moderat dan mencoba berdiri di tengah-tengah dua aliran ekstrim tadi.

Bagi kalangan Sunni, terjadinya perbuatan (nasib) adalah kehendak Allah sejak zaman azali bersamaan dengan kekuatan usaha manusia, meski usaha tersebut hakikatnya bukanlah faktor yang berpengaruh. Dalam bahasa Arab, konsep Suni ini dirumuskan menjadi: "Wujudul 'af'ali bi qudratil azaliyyati ma a maqaranitiha bi qudratil haditsati la ta'tsira laha". Maka, mengacu pada prinsip Sunni tersebut, dapat dipahami bahwa Allah memang menggariskan ketentuan nasib yang akan terjadi manusia, namun manusia diwajibkan untuk senantiasa berikhtiar atau berusaha mencapai tujuan yang diinginkan.

Kaum Sunni mengenal adanya kasb (usaha). Sehingga, bagi orang yang ingin mendapat jodoh, misalnya, diwajibkan untuk berusaha mencari, dan bukannya diam pasif atau menunggu begitu saja datangnya jodoh. Dalam kaitan ini, Allah berfirman dalam al-Qur'an yang artinya: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali mereka mau mengubah nasib mereka sendiri....'. Dalam a-yat lain, Allah berfirman: "Manusia tidaklah mendapatkan sesuatu kecuali yang dia usahakan; dan bahwa hasil usahanya itu akan diperlihatkan (kepadanya), kemudian akan dibalas dengan balasan yang setimpal" (QS. An-Najm: 39). Jelaslah, bahwa manusia diwajibkan berusaha. Soal hasil usahanya, Allah Yang Maha Melihat Yang punya hak 'veto' untuk menentukannya.

Kaum Sunni membagi qadha Allah dalam 2 jenis. Pertama, qadha' mubram, yaitu ketentuan Allah pada zaman azali yang tidak bisa berubah. Kedua, qa-dha' mu'allaq, yakni ketentuan Allah yang bisa saja berubah a-tas kehendak-Nya. Dalam qa-dha' jenis kedua ini, bisa saja seseorang yang saat zaman azali digariskan mendapat jodoh si Alantas dalam praksisnya berubah mendapatkan jodoh selain si B. Seseorang yang berusaha mendapatkan sesuatu, sementara Allah memang menghendaki, pasti terjadi!. Allah mempunyai sifat jaiz yang memungkinkan segala sesuatu akan terjadi pada manusia atas skenario-Nya. Dan Allah akan melihat usaha yang telah dilakukan oleh hamba-Nya.

Ikhtiar manusia bisa berupa upaya yang sungguh-sungguh atau juga dengan do'a. Ada ungkapan yang sangat populer soal pentingnya nilai do a. "La yaruddul qadha' illa du'a' (tidak ada yang bisa menolak qadha' Allah selain do a). Demikianlah konsep yang diyakini oleh kalangan Sunni. Kalangan ini menganggap a-da hikmah yang terkandung di balik do a yang kita panjatkan, sehingga bisa ¡adi akan mengubah nasib manusia, atas kehendak Allah. Terhadap seseorang yang sudah di qada' oleh Allah akan mati pada waktu dan tempat yang sudah ditentukan pada zaman azali, misalnya, bisa jadi Allah malah memanjangkan umurnya dan mentakdirkan lain. Bukankah banyak manusia yang minta dipanjangkan umurnya dengan cara berdoa dan meminta kepada-Nya. Sementara Allah sendiri dalam sebuah firman-Nya memang memerintahkan manusia untuk berdoa dan meminta kepada-Nya.

Berdasarkan prinsip ikhtiar dan doa di atas, sebenarnya telah jelas bahwa percaya kepada takdir tidak sama dengan sikap fatalisme, sebab fatalisme itu sebagai sikap menyerah-kalah pada nasib atau fate, yang berarti tidak adanya usaha (inactivity). Islam mengajarkan amal usaha yang memiliki makna dan arti penting bagi penentuan nasib seseorang. Islam menganjurkan umatnya untuk mencari jodoh dan menikah. Tentu selain itu, umat Islam wajib mengimani (percaya) akan adanya qadha' dan qadar Allah yang terjadi pada manusia, entah itu baik atau buruk adanya.

Selesai berusaha, manusia harus tawakal (berserah diri) kepada Allah. Pepatah Arab mengatakan, i`qil wa tawakkal" (usaha dan bertawakkallahl). Atas komitmen iman itu, manusia mesti menerima apa yang kemudian terjadi. Dr. Nurcholish Madjid (alm.) dalam buku Pintu-pintu Menuju Tuhan, mengatakan pengertian 'menerima takdir' hanya benar jika dikenakan kepada sesuatu yang telah terjadi, telah lewat, sehingga sudah 'tutup buku'. Dan, jelas akan salah jika pengertian itu dikenakan kepada sesuatu yang masih bakal terjadi atau yang akan datang. Menurut Cak Nur, untuk sesuatu yang masih bakal terjadi atau akan datang, kita harus berbicara tentang kewajiban melakukan ikhtiar, memilih kemungkinan yang terbaik bagi kita.

Meski takdir jodoh sudah ditentukan, masih tetap ada ruang bagi seseorang untuk memilih dan mengusahakan yang terbaik bagi dirinya. Sayang, manusia punya kelemahan, yaitu mudah putus asa jika gagal (dan mudah lupa daratan jika sukses). Padahal, percaya pada qadha' dan takdir secara benar, justru dapat menjadi bekal bagi keberhasilan hidup, Mengimani adanya takdir jodoh secara tepat akan membuat seseorang menjadi pribadi dengan jiwa seimbang, percaya diri (tsiqah), tahu diri, dan tidak gentar menghadapi kesulitan yang merintangi, karena percaya akan 'campur tangan' Tuhan, Wallahu a'lam. (A)

Blog, Updated at: 07.50.00

0 komentar:

Poskan Komentar

Cari Blog Ini

Entri Populer