Hikmah di Balik Batal Nikah

Posted by Situs Cari Jodoh Terbesar on Sabtu, 02 November 2013

http://www.mencarijodoh.org/
Tiga tahun bukanlah waktu sebentar untuk menjalin hubungan dekat. Cobaan demi cobaan di sela-sela romantika hidup, terus mewarnai dari detik ke detik. Sampai-sampai aku pernah bilang sama Irvan, apakah sebaiknya kita tidak berdekatan? Hubungan kita seperti sekedar teman saja. Tapi dia menguatkan bahwa sepanjang cobaan itu dari orang luar, bukankah justru menambah dekatnya hubungan kita? Lalu aku pun mengurungkan niat itu dan membenarkan omongan Irvan. Karena memang begitulah yang kurasakan, akar permasalahan seringkali dari orang luar.

Yah sebetulnya aku dan Irvan cocok, saling menerima apa adanya. Kami hanya berpegang pada motto hidup, ikuti aturan Allah dan Rasul. Meski terkadang menjalaninya tidak mudah, tapi kami tetap berusaha. Soal hobi, manan kesukaan dan yang lain bisa saling memaklumi jika terjadi perbedaan.

Cobaan justru datang dari luar. Biasalah, terkadang orang tidak senang melihat kebahagian orang lain. Masih mending kalau cuma itu, mereka juga menaruh cemburu. Sedapat mungkin hubungan kami bubaran. Cobaan paling dahsyat kualami dan membuatku hampir tidak melan-jutkan hubungan dengan Irvan Ketika Dodit, orang lama, musuh bebuyutanku, lagi-lagi membuat ulah. Dia bilang sama Irvan kalau di kampung aku sudah dijodohkan oleh orangtuaku. Bayangkan saja, saat itu Irvan lagi gencar-gencarnya mendekati aku. Bagaimana kalau sampai Irvan percaya?

Dodit satu kampung dengan-ku. Sejak dulu dia menaruh nati. Sampai-sampai aku pindah ke ko-ta, dia juga ikutan. Tapi cintanya tak pernah kubalas. Akibatnya dia selalu menghalangi siapa pun yang mencoBa mendekatiku. Makanya aku bilang dia  musuh. Syukurlah Irvan tidak percaya begitu saja. Toh, aku yang dia dekati, kenapa mesti mendengar-kan orang lain kalau memang tidak ada buktinya.

Meski kami dekat, aku mau-pun Irvan tidak mau dikatakan pacaran. Kami telah memiliki ko-mitmen sebagai orang yang senantiasa menjalankan aturan Allah dan Rasul. Apa pun kondisi-nya, agama melarang orang pacaran. Hubungan kami memang lebih dari sekedar berteman bia-sa. Kami telah membuat komitmen untuk nantinya berumah tangga. Tepatnya saat kami telah sama-sama lulus dan Irvan seti-daknya sudah berkerja. Untuk kesehariannya, pergaulan kami tertata sesuai syariat. Misalnya ketika kami keluar, kami tidak ha-nya berduaan.

Sebelum dengan Irvan, aku menjalin hubungan dekat dengan lawan jenis, layaknya orang pacaran. Tepatnya semenjak pindah ke kota mencari ilmu. Nonton berdua, makan berdua, bahkan cium-ciuman. Jauh dari orangtua membuatku jauh pula dari iman. Aku bagai kuda lepas dari pingit-an. Setiap kali pulang kampung, bapak dan ibu senantiasa mena-sehati agar aku berhati-hati ter-hadap pergaulan kota. Aku pun meyakinkan mereka dengan ber-bohong, bahwa aku baik-baik saja. Tidak ngedrug, juga tidak pacaran.

Sampai suatu saat Irvan me-ngisi hidupku. Dialah yang mem-buka pintu hatiku, bagaimana se-baiknya seorang muslimah. Tidak saja aku disuruh menutup aurat, tapi tata cara hidupku juga sesuai dengan kaidah agama. Semua itu Irvan yang mengatur.

Maklumlah dia seorang aktivis pengajian. Dengan Irvanlah aku baru berani memperkenalkannya kepada keluarga. Di samping Irvan baik, taat beragama serta serius menjalin hubungan. Toh, suatu saat a-ku harus menikah. Bapak dan ibu pun setuju.

Waktu terus berjalan.Tak te-rasa kuliah Irvan selesai. Bebera-pa bulan kemudian dia diterima bekerja di perusahaan tempat dia dulu magang. Tidak lama se-telah itu aku pun lulus. Aku pura-pura menagih janji. Ketika kami berbicara santai, dengan iseng kukatakan, "Kapan kita menikah?" Irvan seperti diingatkan. Dia langsung mengiyakan ucapanku. Betapa aku tidak menyangka campur bahagia. Irvan meluluskan permintaanku.

Aku lega. Akhirnya petuala-nganku bercinta akan segera berakhir. Aku akan hidup dengan orang yang benar. Bayangkan, sudan berapa kali semenjak aku bersekolah di SMA aku berhubu-ngan dengan laki-laki. Wajah de-saku yang "njawani", yang semula membuatku minder, ternyata di kota justru menjadi favorit. Ram-but panjang, tubuh langsing, kulit hitam manis, membuat banyak le-laki suka. Putus dengan lelaki satu, tanpa susah mencari, tinggal me-nerima lelaki lain. Hanya dengan Irvanlah kedua orangtuaku tahu aku menjalin hubungan dengan lawan jenis. Syukurlah, bapak dan ibu senang menerima Irvan. Dia taat beragama. Seperti juga saran Irvan, kututup masa laluku dengan banyak istighfar karena dosa membohongi orangtua maupun dosa melanggar syariat lantaran hubungan dekat dengan lawan jenis.

Kami akan menggelar pesta sederhana. Irvan masin pegawai baru dan aku belum bekerja. Aku dan Irvan ketika kuliah dibiayai kakak-kakak. Pada saat menikah pun, biayanya ditanggung ber-sama. Yang penting tujuan kami mengumpuTkan teman-teman sebagai bentuk silaturahmi tersam-paikan. Aku mulai rajin mencari info teman temanku. Kucari ala-mat mereka satu persatu. Aku begitu bersemangat.

Barangkali saat ini saat tera-khir pula hajatan keluarga besar kami, mengingat aku anak pe-rempuan terakhir. Itulah yang membuat ke-luargaku mabersemangat mempersiapkan hajatan pernikahan. Terbatasnya biaya ditanggung bersama dan proses persiapannya pun dilakukan beramai-ramai.

Para keponakan kukerahkan membuat souvenir. Sederhana tapi mudah-mudahan cukup ber-manfaat, yaitu tasbih berisi seratus biji. Sedangkan undangan, yang membuat teman kakaklaki-lakiku. Bentuknya unik. Undangan dimasukkan ke dalam bambu seperti pipa, layaknya mahasiswa mendapatkan ijazah saat wisu-da. Untuk konsumsi, dari teman kakakku yang kebetulan punya bisnis katering. Tempat nikah, ha-laman dan rumah kami cukup lu-as, jadi tidak perlu menyewa tempat. Sementara dekorasi, teman-teman mengaji Irvan yang akan mengerjakan. Ah, pokok-nya aku dan Irvan tidak mau ka-lah dengan teman-teman yang di kota
meski untuk mewujudkan-nya harus ditanggung bergotong royong.

Aku puas. Setiap orang yang terlibat berusaha memberikan yang terbaik. Termasuk seragam untuk orangtua, pengiring, dan juga panitia. Irvan pun oangga. Po-koknya kami tidak mau kalah dalam menyelenggarakan pesta pernikahan. Semangatku terus membara, juga Irvan

Waktu terus berputar. Semua persiapan sudah matang. Tanpa terasa, tahu-tahu pesta kurang satu bulan lagi. Teman ibu meminta aku dan Irvan mengepas pa-kaian pengantin, siapa tahu ada yang harus dibenahi serta pakai-an mana dan warna apa yang diingini.

Irvan kuhubungi, tapi jawab-nya selalu sibuk. Dia dan teman-temannya sedang mempersiapkan dekorasi pengantin terindah. Aku pun maklum. Tapi bagaimana aku menyadarkannya bahwa mengepas pakaian juga penting. Mentang-mentang dia lelaki yang busananya tidak rumit.

Irvan terus kuhubungi, sesering ibu mendesakku. Tapi penantian itu tinggal penantian ketika suatu saat aku menerima sms yang bunyinya lain dari yang kuduga. Asma lebih baik pernikahan kita dibatalkan, ada hal yang harus aku lakukan yang lebih penting.

Kuamati SMS itu berkali-kali. Tidak mungkin ini dari Irvan. Pasti salah satu keponakannya yang meminjam HPnya. Kubiarkan sms itu. Sedikit pun aku tidak tanggapi. Namun semakin kubiarkan, dari detik ke detik lama-lama aku tak tenang. Jawaban dari Irvan masih kutunggu. Ketika kakakku tertua memberikan deadline agar Irvan datang, dan aku tidak punya alasan lagi, lantas kuberikan sms itu.

Sontak kakakku kaget dan menayakan apa maksudnya. Ten-tu saja aku menjawab tidak tahu, karena sms itu pasti bukan dari Irvan, mungkin keponakannya yang nakal. Aku masih bisa mem-belanya, meski diam-diam dalam hati melihat keresahan kakakku.

Kakakku tidak yakin. Hari makin mendekat. Lalu ia berkonsultasi dengan anggota keluarga. Yah, ini tidak bisa dianggap main-main, kesimpulan semuanya.

Aku disuruh menghubungi Irvan sekali lagi, tapi HPnya malah dimatikan. Keluarga panik dan marah-marah. Bagaimana aku bisa menjelaskan, sebab aku sen-diri tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan Irvan. Bapak se-gera menyuruh salah satu kakak lelakiku mendatangi tempat kos di mana dulu aku dan Irvan ber-temu. Sayang pemilik kos bilang kalau sudah sebulan Irvan tidak di situ. Juga dengan tempat pe-kerjaannya, dia sudah keluar. Sedang kakakku yang disuruh pergi ke kampung halamannya lebih menyakitkan lagi. Orangtua dan saudara-saudaranya juga sedang resah. Irvan sudah sejak satu bulan lalu menghilang, entah kemana. Dia juga mengirim sms kalau pernikahannya minta dibatalkan saja. Mereka pun tidak tahu apa sesungguhnya yang terjadi dengan Irvan serta tidak tahu ia sedang berada di mana.

Hatiku terbang entah kemana. Hidupku seperti sudah bera-khir. Jalan di depanku gelap, bah-kan aku berdiri di bibir tebing yang curam. Pertanyaan-pertanyaan tanpa diundang silih berganti merasuki pikiran. Apakah ialupa, sepanjang tiga tahun ranjau demi ranjau menghalangi jalanan, tapi semuanya dengan selamat bisa dilalui. Apakah dia lupa, begitu bersemangatnya ketika me-mutuskan untuk menikah, lengkap dengan segala persiapannya.

Aku berniat mengakhiri saja hidup ini. Bukan berarti aku tidak mampu hidup tanpa Irvan. Aku tidak tahu lagi bagaimana pera-saanku terhadap Irvan. Baju pengantin, kue bersusun, makanan, undangan, dekorasi melambai-lambai sembari mencibir di depan mataku.

Aku segera diungsikan ke rumah Bu Lek, di lain desa guna menghindari kondisi lebih buruk. "Setiap masalah pasti membawa hikmah, kalau tidak sekarang pasti nanti. Seberat apa pun masalah pasti dalam kemampuan hamba-Nya. Dan yang lebih penting lagi, rahmat Allah itu jauh me-lebihi masalah yang diberikan", begitu Bu Lek menasehatiku. Aku masih terus diam, tak tahu apa yang sedang kupikirkan. Kalau toh aku masin hidup, itu karena aku masih diberi kesempatan bernafas.

Merasakan suasana lain di tempat Bu Lek, membuat kondisi-ku lambat laun berangsur baik. Pikiranku mulai bisa bekerja. Untuk apa disesali, untuk apa dise-dihi, toh semua sudah terjadi, toh Irvan sudah tidak lagi peduli. Untuk mengisi waktu aku membantu Bu Lek dan Pak Lek di kebun. Pada saatnya bertanam aku ikut me-nanam. Pada saatnya berbuah aku ikut memetik. Bu Lek dan Pak Lek senang. Tidak saja meli-hat kondisiku yang berangsur pu-lih, tapi mereka seperti menemu-kan anak sendiri.

Waktu tak akan pernah mun-dur. Sebaliknya selalu berputar mengikuti rotasi bumi. Ketika aku, Bu Lek dan Pak Lek melihat kal-ender, kapan kira-kira dimulainya masa tanam, tiba-tiba jantungku berdetak keras. Yah, itulah tang-gal bersejarah di mana saat itu aku dan Irvan berencana meng-akhiri masa pertemanan. Kini ren-cana tinggal rencana. Tidak te-rasa satu tahun telah berlalu. Aku tersentak dan tersadar mende-ngar istiahfar Buk Lek. Ah, ternya-ta mereka sedang menonton te-levisi.

Dari kejauhan aku melihat, berita tertangkapnya para pela-ku bom di supermaket beberapa bulan lalu. Baru tertangkap dua orang, dua lainnya masih buron. Lalu gambar mereka ditayang-kan. Hatiku tersentak begitu melihat foto pelaku kedua.

Kukerjap-kerjapkan mata. Benarkah yang kulihat. Aku buru-buru mendekat, lalu kudengarkan baik-baik sumber berita itu. Yah, benar dialah Hanif alias Irvan, orang yang nya-ris menjadi suamiku. Ternyata perkumpulan pengajian yang di ikutinya selama ini mempunyai misi tertentu dan yang pasti mem-bawa mudharat bagi orang banyak.

Tiba-tiba terngiang nasihat Bu Lek, rahmat Allan jauh melebihi musibah yang ditimpakan. Yah, kalau saja saat itu aku jadian sama Irvan, seluruh Indonesia akan mengenalku. Bukan karena ka-bar baik, tapi lantaran aku punya seorang suami pelaku peledak bom. Yah..yah tentunya tidak seberapa cobaan yang pernah ku-terima dibanding menjadi seorang isterinya. Aku manggut-manggut mengiyakan.

Di dalam kamar, di depan kaca, aku tersenyum. Hatiku berbisik, petualangan cintaku belum berakhir. Kehidupanku sedang berjalan, dan aku masih sama seperti yang dulu, tetap seorang diri. Tapi ada sesuatu yang berharga, yaitu iman. Aku jadi mengerti di balik musibah, pasti memberikan hikmah. Aku juga tahu tata cara menjadi muslimah, mengerti pula bagaimana menjalin hubungan yang halal dengan lawan jenis, sekalipun semua itu kuterima melalui seorang pelaku peledakan bom: Irvan. 

Blog, Updated at: 02.00.00

0 komentar:

Poskan Komentar

Cari Blog Ini

Entri Populer