Suami Abai, Istri Terbengkalai

Posted by Situs Cari Jodoh Terbesar on Jumat, 01 November 2013

http://www.mencarijodoh.org/
Kesibukan duniawi serta aneka ragam pikatannya acap kali melenakan kita dari hakikat pernikahan. Sering terjadi penafsiran keliru tentang makna tangaung jawab ruman tangga, yang justru menimbulkan sikap abai suami. Imbasnya perhatian bahkan hak-hak dasar istri sering terbengkalai atau malah terpangkas. Di sinilah bermulanya keretakan hubungan suami istri yang bila tak disikapi bijaksana bisa merubuhkan mahligai pernikahan.

Hati Mamanto sedang berkibar-kibar. Hampir setahun belaka-ngan dewi fortuna terus memayungi keberuntungannya. Apa pun yang disentuh oleh tangan emasnya, menghasilkan rezeki yang melimpah. Side jobnya jauh lebihmelimpah ketimbang penghasilan pokok sebagai karyawan biasa. Hasil tangan emasnya lu-mayan menakjubkan, kini Mamanto mengendarai sepeda motor model terbaru, tiga buah handphone mutakhir ditenteng tiga puterinya, dan perabot ru-mah bagi istri serta tabungan pu-luhan juta di bank.

Mumpung sedang hoki dia tak mau tanggung-tanggung. Subuh-subuh buta Mamanto berangkatdari rumah dan pulangnya sudah dini hari. Sabtu-Minggu yang biasanya bercengkrama dengan anak istri, lagi-lagi diisi juga dengan bisnis makelar. Mamanto benar-benar merasakan hebatnya filosofi time is money. Dalam benaknya yang berkelebat hanyalah uang, uang dan uang. Seiring bertambahnya pema-sukan, kebutuhan dan pengeluaran juga melonjak. Alhasil uang tak pernah memuaskan dan tak pemah cukup. Gaya hidup itu membuat Mamanto semakin gila-gilaan mengejar rupiah.

Sementara itu, seiring me-ningkatnya kesibukan suami, Mami justru diterkam kehampa-an. Pada siapa dia hendak mencurahkan isi hati, sementara suami hadir saat dia terkapar dalam tidur yang lelah. Apalagi kebutuhan batin sudah lama macet dan membuatnya meriang tanggung. Sedihnya lagi, anak-anak juga baru pulang sekolah kala senja menua. Lengkaplah penderitaan Mami yang ditikam sepi bertubi-tubi.

Ibu muda itu mulai cari-cari kesibukan. Dengan senang hati ia membantu tukang bakso. Karto yang dasarnya bujang pendiam, senang saja dibantu memasak dan dia juga betah mendengar kicauan Mami. Kedekatan dua insan ini sangat rapat dan setan pun mementaskan rayuan maut. Berikutnya bukan sekedar curhat-curhatan, bukan pula ha-nya bantu membantu, malah berlanjut pada hubungan badan. Buat sementara tak ada yang tahu karena komplek perumahan seringkali sepi. Hingga di episode ke lima kalinya, perbuatan terkutuk itu terbongkar. Mamanto meradang hebat, istrinya dihajar sampai babak belur, diterjang, ditendang hingga terjungkal di halaman rumah. Karto si bujang lugu lebih tragis, kekhilafan itu ditebusnya dengan kehilangan nyawa. Akibatnya Mamanto pun resmi menjadi penghuni jeruji besi, sementara anak-anak-nya terlantar. Nauzubillahi min zalik...

Kenapa Azab Diri?

Prof. Dr. Zakiah Drajat menyoroti gaya workaholic ala Mamanto. Pakar psikoterapi ini menyindir, "Kenapa bekerja mengazab diri?" Ya, benar! Buat apa me gejar harta atau dunia yang fana ini hingga menganiaya diri, sementara kerugian yang ditim-bulkannya sangat banyak? Bahkan kebahagiaan rumah tangg lenyap berganti duka lara.

Sikap abai suami, selaku ke pala rumah tangga jelas berba-haya. Bila pemimpin yang sudah menelantarkan tanggung jaw&b, tak pelak ujungnya akan ada hak-hak anak istri yang beranta-kan. Sedini mungkin sikap yang bisa muncul tanpa disadari ini segera diantisipasi, sebelum ia yang mengakhiri kebahagiaan keluarga kita dengan ending yang memilukan.

Sikap abai ada yang tergolong parsial atau beberapa hal saja, misalnya suami abai memenuhi ekonomi/nafkah lahir, namun tetap memenuhi nafkah batin. Contoh lainnya suami lalai nafkah batin, atau acuh dengan nafkah psikologis istri, tapi nafkah ekonominya lancar. Di sini perlu digarisbawahi, kalau pun yang diabaikan sebagian saja, hal itu tetap tergolong sikap zalim karena menghambat hak orang lain (keluarga). Yang paling parah ialah sikap abai secara total, dimana suami benar-benar cuek terhadap semua hak-hak anak istri. Pokoknya istri sekedar label, sementara perannya cuma menunaikan kewajiban, plus mene-rima siksa lahir batin. Betapa menyedihkan!

Perempuan lebih rentan terhadap mental disorder atau gangguan kejiwaan. Apalagi bila kebutuhan psikologisnya tak terpenuhi, maka goncangan jiwanya akan lebih parah. Terpangkasnya nafkah seksual, bagi sebagian wanita mungkin bisa dimaklumi atau dinetralisir dengan berbagai aktivitas. Namun nafkah psikologis berupa sentuhan kasih sa-yang, perhatian, dan kesediaan suami mendengar amat sulit ditepis. Mungkin istri diam, tapi hatinya menjerit setinggi langit. Hati tak bisa didustai!

Terkadang kita membiarkan roda rumah tangga bergulir begitu saja. Tak ada evaluasi kecuali memendam segala rasa di hati masing-masing. Jika istri tidak mau bicara, ajukanlah lebih banyak pertanyaan agar ia bersedia membuka diri. Jangan melawan diamnya dengan diam, ia akan merasa diabaikan. Ketika suami bertanya, "Apakah semuanya beres?" Istri cepat menjawab, "Ya." Padahal hatinya berteriak, "Tidak, dan kalau kamu peduli ta-nyalah banyak hal." Tapi suami terlalu berbaik sangka dengan ja-waban singkat istri dan kembali larut dengan dunianya sendiri.

Jawaban sendu dari air muka istri terlewatkan karena suami sadah kelelahan.

Seorang perempuan meng-idamkan pernikahan untuk memenuhi kebutuhannya akan per-lindungan, kasihsayang, motivasi dan aktualisasi diri. Keinginan batin itu sering berselisih dengan cara suami yang menjawabnya bcrupa tumpukan uang. Suami telah mengazab dirinya denn limpahan harta, seiring itu pula ia telah menganiaya anak istri. Ingatlah, pernikahan itu intinya penyatuan lahir-batin antara dua hati. Nah, setelah resmi bersatu padu kenapa kita saling berjarak demi dunia?

Tawazun

Kehidupan kota besar seka-liber Jakarta misalnya, cende-rung tak manusiawi. Semua orang dituntut bertarung demi mempertahankan kehidupan. Aroma persaingan itu berlang-sung terus menerus dan menggerus hak-hak keluarga. Meskipun kita mengaku masyarakat maju, bukan berarti kita jadi gila be-kerja atau workaholic. Yang pen-ting bukan gila kerja, melainkan bekerja secara positif dan profe-sional. Bekerja merupakan bagi-an dari episode hidup dalam me-menuhi nafkah, dan masih ba-ayak episode amanah hidup lain . ang wajib dipenuhi. Pengelolaan waktu yang bijaksana serta cara <erja yang baik, insya Allah tak 3kan ada lagi pihak yang terbeng-kalai.

Segala yang terlalu atau ber-.rbihan sering berujung kesusah-an. Dari situlah sikap tawazun a-:au keseimbangan menjadi pilihan tepat agar hidup terasa indah.

Kita tak akan bisa memuaskan semua pihak, namun kita bisa berusaha memenuhi hak orang-orang yang kita cintai.

Adakalanya istri harus siap berbesar hati dengan kenyataan suami yang terpaksa kerja ekstra demi memenuhi nafkah keluarga. Pada kondisi darurat begitu, daya toleransi mesti ditingkat-kan. Toh, yang namanya darurat hanya sementara saja, bukan se-lamanya. Perlu dialog keterbukaan tentang kondisi yang memaksa terpangkasnya beberapa hak, serta dibangun dialog kasih sa-yang mengenai solusi yang hendak dicari.

Sehingga istri tak perlu raem-buat pelarian negatif, seperti cur-hat pada yang lain dan parahnya sampai jatuh ke selingkuh. Istri uga bisa menciptakan pelarian positif dengan kegiatan berman-faat, seperti pengajian, majlis taklim, aksi bagi anak terlantar, anak asuh, arisan dan aksi social lain. Suami bisa mendukung istrinya menemukan wadah yang lebih tepat untuk aktualisasi diri.

Jangan sampai istri hanya mengenai empat tembok rumah, seringnya hanya berteman ku-cing dan hewan piaraan saja. Li-batkan istri beraktivitas karena sebenarnya sibuk itu nikmat. Ke-jemuan juga musuh besar yang mesti diwaspadai. Oleh sebab itu, waktu yang lowong segera diisi kegiatan bermanfaat sebelum se-tan yang menghasut dan menje-rumuskan pada kejahatan. Aktualisasi diri itu penting meski tak selalu berujung pada keuntung-an finansial.

Dalam bukunya yang me-nakjubkan, "Meraih Kebahagia-an", Jalaluddin Rakhmat menya-yangkan sikap manusia yang me-ngejar dunia dan membuang kebahagiaan hakiki. Harta yang dikejar tak akan pernah memuaskan, seiring itu kita kehilangan bahagia yang paling berharga, yaitu keluarga tercinta.

Sikap tawazun atau keseimbangan ini menjadi ptlihan ter-baik bagi kedua belah pihak. Suami lekas mengambil larigkah strategis menata jam kerja dai kembali pada keluarga. Istri juga memposisikan diri sebagai penyo kong dan mengisi harinya de ngan kegiatan positif yang bis meringankan beban sua melapangkan jiwanya. Sikap ta wazun insya Allah membentengi keluarga dari kemungkinan bu-ruk sebagai imbas dari sikap abai.

Blog, Updated at: 05.54.00

0 komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini

Entri Populer